Memaknai Pandemi dengan Filosofi Ketakutan: Catatan Bulan Juli 2021
Catatan ini dibuat dengan hasil refleksi saya dalam menghadapi Pandemi akhir-akhir ini. Wabah virus yang telah ditetapkan menjadi Pandemi semenjak bulan Maret tahun lalu, membawa banyak penyesuaian serta kecemasan sosial. Hari-hari dipenuhi rasa cemas, putus asa, serta lewah pikir. Belum selesai dengan perjuangan pada wabah gelombang pertama, varian baru virus kian berdatangan. Kali ini mutasi virus semakin cepat. Kami yang sedang berusaha membangun strategi koping untuk kembali bangkit, nampaknya harus berlapang dada, dan berusaha lebih tangguh.
Maka, bukan hal janggal jika hasil survey kesehatan dari WHO menunjukan tingginya pemicu isu kesehatan mental di kala pandemi sekarang ini. Sejumlah faktor seperti kondisi kesehatan, kepedihan akan kehilangan pendapatan dan rencana masa depan, hingga kepiluan akan ditinggalkan orang-orang tersayang, menjadi beberapa dari sekian banyak faktor penyebabnya. Perjuangan pun masih terus berlanjut dan terasa lebih panjang. Kami yang sedang dirundung kekhawatiran dan kemalangan berusaha menanggapi keadaan. Respons yang datang dari masyarakat pun beragam. Ada yang bertindak acuh dan mempercayai konspirasi-konspirasi yang beredar, berperilaku impulsif dengan membeli stok vitamin dan suplemen makanan secara berlebihan, hingga dirundung kegundahan karena harus merasakan kehilangan. Kami semua sedang sama-sama berproses, untuk menerima perubahan.
Tak berhenti mengucap syukur, nampaknya saya masih diberkahi kasih sayang-Nya. Beberapa hari yang lalu, ketika saya sempat merasakan kesedihan yang berlebih dari biasanya, akun Youtube saya merekomendasikan salah satu kajian dari Ngaji Filsafat mengenai Filsafat Ketakutan. Sebuah rekaman kajian yang dibuat pada bulan Januari tahun 2019, namun sesuai dengan konteks sekarang ini. Rupanya, semua kekhawatiran serta kesedihan yang sempat saya rasakan, merupakan pewujudan dari rasa takut. Bahkan ketika beberapa dari kami memberi tanggapan dengan menolak fakta atau melakukan perbuatan impulsif, maka sebenarnya yang sedang kami produksi yaitu rasa ketakutan itu sendiri. Takut jika virus itu benar-benar ada, maka mencari teori pembenaran tandingan. Takut terkena virus, maka memborong tambahan nutrisi makanan. Pun ketika kami takut atas kegagalan atau ketertundaan masa depan, maka hari-hari rasanya dipenuhi kemasygulan. Kami semua sedang berusaha untuk menaggapi rasa takut, dengan cara masing-masing.
Nyatanya, ketakutan yang bersifat eksistensial itu, merupakan hal yang manusiawi sebagai mekanisme pertahanan diri, juga pewujudan dari pengetahun yang belum penuh (uncomplete knowledge). Seperti beberapa dari kami yang takut kebenaran data tentang virus dan khawatir memberi dampak pada kesehatan psikis, maka sebenarnya kami belum tahu, bahwa mengetahui realita yang ada, tidak lantas membuat kami menjadi lemah, malah membawa pada kesadaran penuh, dan sikap kehati-hatian. Juga, ketika mengalami ketakutan dengan membeli suplemen tertentu dengan jumlah besar-besaran, maka sesungguhnya kami belum tahu, jika yang kami butuhkan adalah kandungan vitaminnya, yang mana banyak sekali alternatif produknya. Bahkan, ketika kami takut akan masa depan, maka sesungguhnya kami belum tahu, jika kenyataan dan kemungkinan dalam hidup itu sangat beragam dan luas.
Oleh karena itu, hal pertama yang mesti dilakukan merupakan menyadari rasa takut itu alami. Menyadari bahwasannya memang keadaan sedang tidak baik-baik saja dan kami sedang takut. Membiasakan diri untuk mengakui rasa takut, bukan berarti kami lemah, tapi menyadari bahwa kami mempunyai bekal gas dan rem, yang berasal dari harapan dan ketakutan. Kedua hal tersebut merupakan hal yang kami butuhkan untuk lebih berhati-hati dan terhindar dari sikap yang berlebihan yang membahayakan. Kedua, menyiapkan diri bahwasannya ketakutan dapat dikontrol dengan pikiran. Menyadari pusat segala tindakan berada pada pikiran. Ketiga, tetap mengusahakan rasa takut itu tetap sehat dan rasional. Terakhir, mengusahakan agar rasa takut tetap sehat dan rasional, dengan menghasilkan perjuangan dan kebaikan kepada diri dan orang lain.
Maka, setelah mengetahui bahwasannya harapan dan ketakutan adalah dua hal yang memang bersandingan, baiknya memang kami berusaha untuk mengelolah rasa takut itu. Seperti yang dikatakan oleh Robin Sharma, seorang penulis dari Kanada, “The fear we don’t face becomes our limits”, ketakutan yang tidak kita hadapi menjadi batas hidup kita. Oleh karena itu, semakin kita tidak takut, maka akan semakin jauh juga langkah kita. Semakin tidak takut akan banyak hal, semkain luas juga spektrum hidup kita.
Selain itu, sebagai muslim, baiknya kami mengetahui satu-satunya rasa takut yang pasti terpuji adalah Al-Khauf atau rasa takut kepada Allah. Mengatasi rasa takut dengan mengingat bahwasannya yang perlu ditakuti adalah Allah Yang Maha Pencipta rasa takut itu sendiri. Mengembalikan semua ketakutan kepada sang pemilik takut. Menitipkan semua kemungkinan yang terjadi, hanya kepada-Nya. Kembali terus belajar bahwa semua yang kami rasakan adalah ciptaan-Nya atas dasar cinta-Nya dengan segenap Rahman dan Rahim-Nya. Barangkali, Allah Yang Mahadekat itu, tidak hanya ingin melihat usaha kami untuk berjuang menjadi lebih baik, namun juga menyiapkan kami untuk menjadi pribadi yang mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan, kekecewaan, serta kegagalan. Mempersipakan kami semua menjadi pribadi yang mampu menjawab tantangan jaman dengan menjadi pribadi yang lebih besar tingkatan resilensinya.
Wallahu a’lam bishawab, semoga kita semua senantiasa menjadi hamba-Nya, yang terus mengusahakan diri untuk semakin dekat kepada-Nya. Semoga semua ketakutan yang sedang kita semua rasakan hari ini, diganti dengan kabaikan yang penuh berkah oleh-Nya, Dzat Yang Mahabaik. Mari terus bertahan.
Dokumentasi Ngaji Filsafat 218: Philosophy of Fear (Filsafat Ketakutan)

Komentar
Posting Komentar